flyer Objek Wisata Kawah Gunung Tangkuban Perahu

Berkunjung ke Tangkuban Perahu

Sebenernya sejak Februari lalu kami berencana mengunjungi daerah wisata Tangkuban Perahu, lokasinya sekitar 20 km arah utara kota Bandung. Akhir bulan Mei keinginan anak-anak baru terealisasi.

Selama perjalanan dari kota Bandung ke Gunung Tangkuban Perahu, kita akan melihat perkebunan pohon pinus dan kebun teh. Sungguh sejuk udaranya. Dan kebetulan saat kami berkunjung cuaca sangat cerah.

Di pintu masuk seperti biasa ada loket untuk masuk ke kawasan wisata. Nah untuk wisatawan lokal ini tarif-nya :
Setiap pengunjung dikenai Rp 13.000,-
Kendaraan roda 2 Rp 5.000,-
Kendaraan roda 4 Rp 10.000,-
Kendaraan roda 6 Rp 20.000,-

Setelah selesai membayar tiket masuk perjalanan dilanjutkan. Selama perjalanan mobil menanjak terus sementara di kanan kiri ada banyak pohon-pohonan yang sangat sejuk dipandang mata. Tak lama kita akan melihat Pos Kawah Domas yang berada di sebelah kanan jalan. Menurut cerita, jalan menuju ke kawah Domas harus berjalan kaki menurun sekitar 1 kilo lebih. Di sana kita dapat menemukan sumber air panas yang terus bergolak dan kita dapat merendam kaki. Sumber air panas itu sendiri mengandung air kapur. Waaah, berhubung perjalanan agak jauh, anak-anak tidak jadi menapaki kaki ke kawah ini. Oh ya, sebagai informasi, untuk menuju ke Kawah Domas, disediakan juga pemandu dan ada tarif yang telah ditentukan untuk sebuah rombongan.

Perjalanan dilanjutkan lagi sampai ke atas, sampai bertemu tempat parkir mobil yang sangat luas. Turun dari mobil… kita akan langsung menghirup udara segar bercampur belerang. Begitu menakjubkan. Disana juga kita bisa bertemu dengan banyaknya pedagang kaki lima yang menjajakan aneka cindera mata seperti angklung, mobil-an, gantungan kunci, baju bertuliskan Tangkuban Perahu, baju hangat rajut lengkap dengan syal dan topi, dsb. Tak lama kita pun dapat melihat yang namanya Kawah Ratu. Pemandangan sangat indah. Kawah ini sendiri bentuknya seperti mangkuk raksasa yang besar dan dalam.

Anak-anak Menghadap Tangkuban Perahu
Anak-anak Menghadap Tangkuban Perahu

Katanya bila kita berjalan terus menyusuri tenda-tenda para penjaja cindera mata, kita dapat menuju mata air dan air terjun Cikahuripan. Konon katanya itu adalah tempat pemandian Dayang Sumbi. Mata air itu sendiri terletak sekitar 1 km dari kawah Ratu. Lagi-lagi pengunjung harus berjalan kaki menuju tempat tersebut dan menanjak. Sekali lagi kami tidak mencoba ke sana, sebab katanya tempat tersebut terkena longsong beberapa tahun lalu.

Pendengar Dayang Sumbi disebut-sebut, anak-anak pun bertanya siapkah beliau.
Walhasil, kamipun menceritakan asal usul Gunung Tangkuban Perahu kepada mereka.

Lebih lengkapnya ini ceritanya :

Legenda Sangkuriang

Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permintaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama Sangkuriang.

Ketika Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka.

Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang yang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi – ibunya. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.

Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung Bukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Yang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung Berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).

Cerita disalin dari brosur Taman Wisata Alam Kawah Gunung Tangkuban Parahu (www.twatangkubanparahu.com)

flyer Objek Wisata Kawah Gunung Tangkuban Perahu
Flyer Objek Wisata Kawah Gunung Tangkuban Perahu
kawah-ratu-dari-atas
Kawah Ratu Dari Atas
kawah-ratu-dari-bawah
Kawah Ratu Dari Bawah
pasar
Pasar

Berkunjung ke Tangkuban Perahu

Comments

comments

6 comments on “Berkunjung ke Tangkuban PerahuAdd yours →

    1. Mari Mba Ika, siapin waktu berkunjung ke Tangkuban Perahu, kalau sore hari, sebelum tutup tempat wisata, suasana malah lebih sejuk dan dingin. Sekalian turun ke kawah Domas. Cheers

    1. Hi Mba Sri Andani, pokoknya kalau mba berkunjung ke Bandung, trus jalan2 ke arah Lembang / ke arah gunung, inget2 ya, mampir ke sini. Nikmatin pemandangan alam-nya yang cantik. Saya bantu doa dari jauh ya.

  1. bener-bener sejuuuk udaranya ya Mbak (walaupun sebaiknya pake masker) 😀
    dan yang bikin inget jalan2 kami di Tangkuban Perahu awal tahun 2013 kemaren ituuuu ketan kukus yang kemudian dipanggang dan diberi sambel kacang 🙂 🙂 —>> namanya apa ya??

    1. Ya Mb Tyas, katanya pada saat2 tertentu memang harus pake masker, tapi kebetulan saat kami berkunjung, tidak ada kabut, cuaca sangatlah cerah. Soal makanannya, saya juga lupa namanya, mirip2 unti gitu… 🙂 wah jadi PR buat saya nih, jadi penasaran juga apa ya namanya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *